Alkisah seorang tukang pahat akan membuat sebuah karya pahat bercitarasa
seni yang tinggi dengan bahan sebatang kayu jati. Sambil mengarahkan
mata pisau tatahnya sang pemahat berkata,” Wahai, batang kayu,
ijinkanlah aku memahatmu menjadi sebuah benda seni.”
Batang kayu pun menjawab,”Silakan Pemahat.”
Begitu mata pisau tatah mengenai batang kayu , maka menjeritlah batang
kayu itu,”Aduh!, Aduh!…sakit sekali wahai pemahat. Sakit sekali rasanya
badanku.”
Sang pemahat menghibur batang kayu tersebut,”Bersabarlah,
bertahanlah…sebentar saja aku menyakiti dirimu wahai batang kayu. Sang
pemahat pun mulai meneruskan pekerjaannya. Namun lagi-lagi batang kayu
itu menjerit,”Aduh!Aduh!Sakit sekali…..Ampuuun! Sudah, sudah. Sudahi
saja niatmu pemahat. Aku sudah tidak tahan lagi!”
Meskipun ia menghiburnya, namun batang kayu tersebut tetap tidak
merelakan badannya dipahat sehingga akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Batang kayu itupun ditinggalkan tergolek begitu saja.
Sang pemahat akhirnya mengambil batang kayu yang lainnya lalu meletakkan
di meja tatakan. Kembali ia berkata,”Wahai batang kayu ijinkanlah aku
memahat dirimu untuk kujadikan benda seni.”
“Silakan,wahai pemahat,”jawab batang kayu kedua.
Begitu mata pisau tatah mengenai batang kayu , maka menjeritlah batang
kayu itu,”Aduh!, aduh!…sakit sekali wahai pemahat.Sakit sekali rasanya
badanku.”
Sang pemahat menghibur batang kayu tersebut,”Bersabarlah,
bertahanlah…sebentar saja aku menyakiti dirimu wahai batang kayu. Sang
pemahat pun mulai meneruskan pekerjaannya. Namun kali ini batang kayu
kedua patuh terdiam sambil menahan sakit. Sang pemahat tersenyum sambil
meneruskan pekerjaannya. Akhirnya selesailah sudah karya pahat
tersebut.
Beberapa orang yang lewat di tempat sang pemahat begitu melihat karya pahat itu langsung tertarik dan mendekat.
“ Sungguh luar biasa indahnya! Karya pahat citarasa seni yang
tinggi.Wah, karya monumental…begitulah ungkapan kekaguman orang-orang
itu sambil tangan mereka memegang dan mengelus batang kayu kedua yang
telah menjadi benda seni.Tentu saja batang kayu kedua merasa bangga dan
tersanjung. Sedangkan batang kayu pertama yang tidak tahan ditatah kini
malah diduduki para pengunjung.Ia dijadikan tempat duduk.
Malam harinya setelah tempat tersebut sunyi, berkatalah batang kayu
pertama,” Ini tidak adil,sungguh tidak adil.Mengapa orang-orang
mengagumimu,sedang aku hanya dijadikan tempat duduk. Padahal kita
sama-sama kayu yang berasal dari tempat yang sama”
Batang kayu kedua menjawab sambil tersenyum,”Saudaraku,mengapa kemarin
kamu menolak ketika akan dipahat? Sekarang kamu malah tidak terima.”
“Tentu saja aku menolak karena tubuhku sakit semua ketika terkena mata pisau pemahat,”
“Itulah.Mengapa kamu tidak diam saja dan bertahan dari rasa sakit sepertiku sehingga pemahat tidak mencampakanmu?”
“ Keterlaluan mereka.Mengapa malah menjadikanku sebagai tempat duduk mereka, sungguh sebuah pelecehan”
“ Jangan begitu saudaraku, sekecil apapun sungguh engkau telah berguna bagi mereka.”
“Huh! Hanya sebagai alas duduk kau bilang berguna? Tidak! Aku ingin dikagumi seperti dirimu.”
Demikianlah sampai pagi menjelang percakapan berlangsung antara kayu
pertama yang selalu menggerutu dan kayu kedua yang sabar dan bijaksana.
Renungan :
Sahabat,
dalam kehidupan ini kadang kita tidak cukup kuat untuk menahan sakit,
kesulitan dan penderitaan atau menghadapai tantangan. Kita kadang
terlalu cepat menyerah, menggerutu dan putus asa. Padahal segala rasa
sakit, kesulitan dan penderitaan tadi justru menjadikan diri kita
menjadi insan yang lebih dewasa, lebih tangguh, lebih bijak, lebih mulia
dan lebih berharga. Sikap cepat menyerah hanya menyisakan kegagalan dan
kekecewaan saja. Jangan cepat menyerah sahabat!





0 komentar:
Posting Komentar